18:33 | Author: Catatan Si Boy

Kawasan Empang Kota Bogor Selatan, pada setiap tahunnya selalu dibanjiri para peziarah yang datang dari berbagai pelosok tanah air, bahkan mancanegara. Empang menjadi terkenal karena di lokasi itu berdiri Masjid Keramat An Nur yang lokasinya tepat di Jalan Lolongok.Di Kompleks Masjid An Nur itulah, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas di makamkan, bersama dengan makam anak-anaknya yaitu Al Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Zen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Husen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas, dan makam murid kesayangannya yaitu Al Habib Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir.

Para penziarah datang ke Masjid Keramat setiap bulan Maulid, Rajab, dan menjelang akhir bulan Suci Ramadhan. (Likuran-red) Apalagi setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus digelar haul Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Athas, para penziarah datang dari berbagai tanah air dan Mancanagera antara lain Singapura, Malaysia, dan dari berbagai belahan Negara Timur Tengah.


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, bertepatan dengan “Haul” (temu tahun-red) Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, warga Empang selalu menyambutnya dengan berbagai kegiatan. Hampir semua rumah penduduk di sekitar Masjid Keramat di hias, seperti halnya akan melakukan hajatan. Apa yang dilakukan warga untuk menghormati para tamu yang datang ke Empang untuk berziarah ke makam Habib Abdullah Bin Muhsin Al Athos. Karena sesuai dengan wasiat Al Habib Abdullah harus membuka pintu kepada para tamunya. Puluhan bahkan ratusan ekor Kambing di potong untuk menjamu para tamu maupun para penziarah. Makanan khas yang menjadi hidangannya adalah nasi kebuli (Nasi dicampur dengan daging kambing).

Umi Fatmah salah satu keturunan dari Habib Abdullah yang dihubungi di kediamananya, Senin (31/3) mengatakan, hidangan nasi kebuli yang disajikan pada setiap peringatan maulid di Empang sudah menjadi ciri khas setiap tahunnya. “ Setiap tamu yang hadir ke Empang akan di jamu dengan nasi kebuli, “ ujarnya.

Menurut dia, nasi kebuli akan disajikan kepada tamu-tamu yang datang dengan tampi, dimana setiap tampinya dimakan rame-rame antara 5 sampai 7 orang. “Konon katanya nasi kebuli awalnya sudah ada sejak zaman Waliyullah Syeh Abdul Qodir Zaelani,” kata Umi Fatmah
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: